PPII Sulsel dan Jurusan Pendidikan IPA UNM Sukses Gelar Semnas IPA VII 2026

Ditulis oleh

di

Makassar — Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia (PPII) Wilayah Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Jurusan Pendidikan IPA FMIPA Universitas Negeri Makassar sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Pendidikan IPA VII Tahun 2026, Sabtu (5/9/2026). Kegiatan yang berlangsung secara daring ini mencatat 435 pendaftar, terdiri atas 347 peserta dan 88 pemakalah dari 19 institusi di berbagai wilayah Indonesia. Memasuki penyelenggaraan ketujuh, seminar tahun ini mengusung tema “Science Edutech for Sustainability: Ekosistem Digital Pembelajaran IPA yang Transformatif dan Berdampak.” Tema tersebut merespons perubahan cara peserta didik memperoleh informasi dan belajar di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Ketua Jurusan Pendidikan IPA FMIPA UNM sekaligus Ketua PPII Wilayah Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Hj. Ramlawati, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan tidak cukup dimaknai sebagai pemindahan pembelajaran ke ruang digital. Pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk menghadirkan pembelajaran IPA yang lebih bermakna, relevan, serta memberi dampak berkelanjutan.

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari perguruan tinggi berbeda, yakni Prof. Dr. Insih Wilujeng, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta yang juga merupakan anggota PPII Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Ari Syahidul Shidiq, M.Pd. dari Universitas Sebelas Maret, serta Prof. Dr. Jusniar, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Negeri Makassar yang merupakan anggota PPII Wilayah Sulawesi Selatan. Kegiatan diawali dengan opening speech oleh Dr. Khaeruddin, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan FMIPA UNM.

Prof. Insih Wilujeng membawakan materi “Digital Learning Ecosystem dalam Pembelajaran IPA di Era AI untuk Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).” Paparannya menekankan bahwa ekosistem pembelajaran digital bukan sekadar penggunaan berbagai perangkat teknologi, tetapi sistem yang menghubungkan pendidik, peserta didik, teknologi, sumber belajar, data, dan konteks pembelajaran. Dalam ekosistem tersebut, kecerdasan artifisial ditempatkan sebagai mitra belajar dan berpikir yang mendukung proses inkuiri serta argumentasi ilmiah, bukan sebagai pengganti peran guru.

Sementara itu, Dr. Ari Syahidul Shidiq mengangkat materi “Implementasi Koding dan Kecerdasan Artificial (KKA) dalam Pembelajaran IPA.” Materi tersebut mengulas peluang pemanfaatan koding dan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran IPA sekaligus pentingnya menyiapkan peserta didik dengan literasi digital dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.

Prof. Jusniar membahas “Integrasi Prinsip Green Chemistry dalam Pembelajaran IPA sebagai Optimalisasi Kepekaan Lingkungan Siswa.” Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan prinsip kimia hijau dalam pembelajaran untuk membangun kepekaan lingkungan, kepedulian terhadap keberlanjutan, serta kemampuan peserta didik menyelesaikan persoalan nyata secara kreatif.

Rangkaian materi ketiga narasumber mempertemukan tiga isu yang saling berkaitan dalam perkembangan pendidikan IPA saat ini, yakni ekosistem pembelajaran digital, koding dan kecerdasan artifisial, serta pendidikan berorientasi keberlanjutan. Seminar juga menjadi ruang bagi pemakalah untuk mendiseminasikan hasil penelitian dan bertukar gagasan dengan peserta dari berbagai daerah.

Menurut Prof. Ramlawati, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya PPII Sulawesi Selatan untuk hadir melalui program yang membangun jejaring, meningkatkan kapasitas pendidik IPA, serta mempertemukan gagasan akademik dengan kebutuhan di lapangan. Sebelumnya, PPII Sulsel bersama mitra juga telah melaksanakan workshop bagi sekitar 50 guru MGMP IPA Kabupaten Takalar yang mengangkat pembelajaran berbasis AI, asesmen STEM-PjBL, dan Education for Sustainable Development.

Melalui Seminar Nasional Pendidikan IPA VII 2026, PPII Sulsel dan Jurusan Pendidikan IPA FMIPA UNM terus memperkuat kolaborasi akademik sekaligus memperluas jejaring antarpendidik, mahasiswa, peneliti, dan praktisi pendidikan IPA. Forum ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi mendorong lahirnya praktik pembelajaran dan kolaborasi baru yang memberi dampak nyata bagi pengembangan pendidikan IPA di Indonesia. []

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *