Makassar — Perkumpulan Pendidik IPA Indonesia (PPII) Wilayah Sulawesi Selatan memperkuat gagasan pembelajaran IPA berkelanjutan melalui partisipasi salah satu anggotanya, Prof. Dr. Jusniar, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber pada Seminar Nasional Pendidikan IPA VII Tahun 2026, Sabtu (5/9/2026).
Seminar yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan IPA FMIPA Universitas Negeri Makassar tersebut mengusung tema “Science Edutech for Sustainability: Ekosistem Digital Pembelajaran IPA yang Transformatif dan Berdampak.” Selain Jusniar, seminar menghadirkan Prof. Dr. Insih Wilujeng, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta dan Dr. Ari Syahidul S., M.Pd. dari Universitas Sebelas Maret. Sambutan pembuka disampaikan Dr. Khaeruddin, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan FMIPA UNM.
Dalam seminar tersebut, Prof. Jusniar membawakan materi “Integrasi Prinsip Green Chemistry dalam Pembelajaran IPA sebagai Optimalisasi Kepekaan Lingkungan Siswa.” Ia menyoroti pentingnya mengintegrasikan prinsip kimia hijau dalam pembelajaran IPA untuk membangun kepekaan peserta didik terhadap persoalan lingkungan. Prof. Jusniar menjelaskan, green chemistry menempatkan pencegahan sebagai prinsip utama melalui pendekatan “prevent, not treat”, yakni mencegah pencemaran sejak dari sumbernya. Pendekatan ini menekankan perancangan produk dan proses kimia yang dapat mengurangi penggunaan maupun pembentukan zat berbahaya.
Dalam pembelajaran, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui pencegahan limbah, penggunaan bahan yang lebih aman, efisiensi energi, pemanfaatan bahan terbarukan, serta pencegahan kecelakaan di laboratorium. Penerapannya dapat dikaitkan dengan berbagai persoalan nyata, seperti penggunaan bioplastik, pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel, pemanfaatan surfaktan nabati, dan penggunaan indikator alami. Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari pembelajaran kimia hijau. Jusniar memaparkan penggunaan simulasi laboratorium seperti PhET dan ChemCollective, e-portofolio digital, Learning Management System seperti Google Classroom dan Moodle, serta video edukasi bertema Green Chemistry for Sustainability.
Menurut Prof. Jusniar, pembelajaran kimia hijau tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kepekaan lingkungan, menumbuhkan kepedulian terhadap keberlanjutan, serta mendorong siswa menyelesaikan persoalan nyata secara kreatif. Keterlibatan Prof. Jusniar dalam seminar tersebut menjadi bagian dari kontribusi PPII Wilayah Sulawesi Selatan dalam pengembangan pembelajaran IPA yang responsif terhadap isu keberlanjutan dan perkembangan teknologi pendidikan. Menutup pemaparannya, Jusniar menyampaikan pesan tentang pentingnya orientasi keberlanjutan dalam pendidikan. “Dengan pendidikan berorientasi kimia hijau, kita tidak hanya mengajar ilmu, namun kita menanam masa depan menuju dunia yang lestari.”




Tinggalkan Balasan